Skip to content

Menu

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025

Calendar

March 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
« Feb    

Categories

  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Internasional
  • Nasional
  • Opini
  • Politik
  • Sosial
  • Terkini
  • Uncategorized

Copyright 2026 | Theme by ThemeinProgress | Proudly powered by WordPress

You are here :
  • Home
  • Uncategorized
  • Program MBG Tingkatkan Gizi Anak Hingga Gerakkan Ekonomi Daerah
Written by Admin@manokwaritopics.comOctober 12, 2025

Program MBG Tingkatkan Gizi Anak Hingga Gerakkan Ekonomi Daerah

Uncategorized Article

Semarang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya menjadi upaya nyata dalam memperbaiki gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal. Melalui distribusi dana yang besar dan pemanfaatan sumber daya dari masyarakat sekitar, program ini terbukti mampu menciptakan dampak ganda: meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda sekaligus menggerakkan roda ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Dalam Rapat Konsolidasi Regional Program MBG yang diselenggarakan di Provinsi Jawa Tengah dan DIY, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengungkapkan besarnya aliran dana dari program ini ke daerah dan bagaimana penggunaannya berdampak langsung terhadap sektor pertanian, peternakan, hingga industri lokal.

“Satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata akan menerima dana sekitar Rp9 hingga Rp10 miliar per tahun. Jika di Jawa Tengah terdapat 3.200 SPPG, maka total dana yang beredar mencapai Rp32 triliun per tahun. Ini jauh melampaui APBD Jawa Tengah yang hanya sekitar Rp27 triliun,” ujar Dadan.

Sebanyak 85 persen dana MBG digunakan untuk membeli bahan pangan dari petani dan pelaku usaha lokal, seperti beras, sayur, buah, dan protein hewani. Sementara 10,5 persen dialokasikan untuk honorarium tenaga pelaksana SPPG, menciptakan peluang kerja baru di desa-desa.

“Satu SPPG membutuhkan sekitar lima ton beras per bulan atau setara dengan panen dua hektar sawah. Setiap tahun juga dibutuhkan 1,5 hektar lahan pisang, 32 kolam lele bioflok dalam empat bulan, 4.000 ekor ayam petelur, serta 18 hektar lahan jagung sebagai pakan ayam. Inilah aspek ekonomi yang akan lahir dari program Makan Bergizi Gratis,” terang Dadan.

Industri dalam negeri pun bergerak cepat merespons kebutuhan logistik program MBG. Produsen peralatan dapur di Semarang mencatat kenaikan omzet tiga hingga empat kali lipat. Bahkan, beberapa pabrik otomotif mulai memproduksi food tray untuk distribusi makanan anak-anak sekolah.

“Sebelum ada program MBG, tidak ada industri yang memproduksi food tray. Sekarang sudah ada 38 pengusaha food tray di Indonesia dengan kapasitas produksi 12,8 juta buah per bulan, sedangkan kebutuhan kita mencapai 15 juta food tray setiap bulan,” ungkap Dadan.

Meski memberi dampak luas, Dadan mengingatkan bahwa kualitas dan keamanan pangan tetap harus dijaga.

“Tujuan utama kita adalah menciptakan anak-anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan ceria, bukan anak yang sakit,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG agar manfaatnya makin dirasakan masyarakat luas.

Program MBG telah membuktikan diri sebagai program strategis yang bukan hanya memperbaiki gizi anak, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi berbasis lokal dan mendorong kemandirian pangan di berbagai daerah Indonesia.

Program MBG Tingkatkan Gizi Anak Hingga Gerakkan Ekonomi Daerah

Semarang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya menjadi upaya nyata dalam memperbaiki gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal. Melalui distribusi dana yang besar dan pemanfaatan sumber daya dari masyarakat sekitar, program ini terbukti mampu menciptakan dampak ganda: meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda sekaligus menggerakkan roda ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Dalam Rapat Konsolidasi Regional Program MBG yang diselenggarakan di Provinsi Jawa Tengah dan DIY, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengungkapkan besarnya aliran dana dari program ini ke daerah dan bagaimana penggunaannya berdampak langsung terhadap sektor pertanian, peternakan, hingga industri lokal.

“Satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata akan menerima dana sekitar Rp9 hingga Rp10 miliar per tahun. Jika di Jawa Tengah terdapat 3.200 SPPG, maka total dana yang beredar mencapai Rp32 triliun per tahun. Ini jauh melampaui APBD Jawa Tengah yang hanya sekitar Rp27 triliun,” ujar Dadan.

Sebanyak 85 persen dana MBG digunakan untuk membeli bahan pangan dari petani dan pelaku usaha lokal, seperti beras, sayur, buah, dan protein hewani. Sementara 10,5 persen dialokasikan untuk honorarium tenaga pelaksana SPPG, menciptakan peluang kerja baru di desa-desa.

“Satu SPPG membutuhkan sekitar lima ton beras per bulan atau setara dengan panen dua hektar sawah. Setiap tahun juga dibutuhkan 1,5 hektar lahan pisang, 32 kolam lele bioflok dalam empat bulan, 4.000 ekor ayam petelur, serta 18 hektar lahan jagung sebagai pakan ayam. Inilah aspek ekonomi yang akan lahir dari program Makan Bergizi Gratis,” terang Dadan.

Industri dalam negeri pun bergerak cepat merespons kebutuhan logistik program MBG. Produsen peralatan dapur di Semarang mencatat kenaikan omzet tiga hingga empat kali lipat. Bahkan, beberapa pabrik otomotif mulai memproduksi food tray untuk distribusi makanan anak-anak sekolah.

“Sebelum ada program MBG, tidak ada industri yang memproduksi food tray. Sekarang sudah ada 38 pengusaha food tray di Indonesia dengan kapasitas produksi 12,8 juta buah per bulan, sedangkan kebutuhan kita mencapai 15 juta food tray setiap bulan,” ungkap Dadan.

Meski memberi dampak luas, Dadan mengingatkan bahwa kualitas dan keamanan pangan tetap harus dijaga.

“Tujuan utama kita adalah menciptakan anak-anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan ceria, bukan anak yang sakit,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG agar manfaatnya makin dirasakan masyarakat luas.

Program MBG telah membuktikan diri sebagai program strategis yang bukan hanya memperbaiki gizi anak, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi berbasis lokal dan mendorong kemandirian pangan di berbagai daerah Indonesia.

You may also like

Tokoh Adat Papua Dukung Stabilitas dan Pembangunan, Film “Pig Feast” Dinilai Sarat Provokasi

Film ‘Pig Feast’ Dikritik, Dinilai Abaikan Pembangunan Energi Nasional

Dukungan PSN Menguat, Film “Pig Feast” Ganggu Pembangunan Ketahanan Energi Papua

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025

Calendar

March 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
« Feb    

Categories

  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Internasional
  • Nasional
  • Opini
  • Politik
  • Sosial
  • Terkini
  • Uncategorized

Copyright 2026 | Theme by ThemeinProgress | Proudly powered by WordPress